Jumat, 16 November 2012

Falsafah Pangastuti

Home Pangastuti merupakan istilah bahasa Jawa yang cukup sering diperdengarkan, khususnya dalam wejangan- wejangan cerita wayang atau ajaran luhur. Bahkan dalam satu kalimat Suradirajayaningrat lebur dening Pangastuti pun dijadikan falsafah pengajaran bagi beberapa perguruan ataupun paguyuban berbasis Jawa, yang kurang lebihnya memberikan arti bahwa angkara murka akan dapat dikalahkan oleh kebajikan. Ini sangat menggembirakan bahwa slogan- slogan berbahasa Jawa, Jawa kuno atau bahasa Kawi tak akan lekang oleh jaman, bahkan telah menasional, misal Bhinekka Tunggal Ika atau Tut Wuri Handayani. Hal ini juga melambangkan bahwa pola pikir Jawa sebenarnya mampu mendasari pola pikir bangsa ini, walau dalam kenyataannya pelaksanaan falsafah- falsafah ini masih jauh dari harapan para pendiri bangsa. Terorisme, perang etnik, tawuran pelajar, konflik aparat dll..
` Mengutip materi pendidikan di Sanggar Silaturahmi Pangastuti, bahwa Pangastuti secara harafiah berarti sujud. Sujud mengandung makna ibadah, maka setiap perilaku hidup ini mestinya selalu diupayakan dalam kontek ibadah, atau Liilahita’alla., semua karena Allah semata. Dan ini yang akan menjadikan kita bersifat ikhlas, sepi ing pamrih rame ing gawe. ` Sujud juga memberikan makna kerendahan hati (andhap asor) dan kesetaraan hidup. Maka memahami hal ini merupakan petunjuk untuk dapat bersikap rendah hati, toleran dan kasih sayang kepada setiap makhluk Allah. Demikian tingginya nilai- nilai yang terkandung dalam makna Pangastuti. ` Falsafah Pangastuti dalam pendidikan Sanggar diterangkan sebagai berikut: PANGASTUTI: Pamujia maring welas asihing Gusti, wujudipun welas asih mong tinemong tumraping sedayaning titah. Ngastiti ati- ati sinatriya ing budi. Tumuruta maring pangerten urip. Tindak tutura kang asih, sepi ing pamrih rame ing gawe. ` Untuk lestarinya budaya luhur bangsa, anda pun bisa berdiskusi disini..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar